KABAR SIMEULUE – Program makan siang bergizi yang digagas Presiden Prabowo Subianto membawa dampak besar bagi Simeulue. Setiap hari selama lima tahun, program ini membutuhkan 23.000 pisang, ikan, dan telur untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah.
Hal ini membuka peluang besar bagi masyarakat, terutama petani dan peternak Simeulue untuk meningkatkan produksi.
Penjabat (Pj) Bupati Simeulue, Teuku Reza Fahlevi, menjadi sosok inspiratif dalam mendorong warga memanfaatkan peluang ini.
Reza tak hanya menyambut baik program tersebut, tetapi juga aktif mengajak masyarakat untuk mulai membudidayakan pisang, mengingat permintaannya yang akan meningkat drastis.
“Anak sekolah kita di Simeulue ada 23.000 orang, belum termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Semua mereka mendapatkan makanan bergizi,” ungkapnya.
Menurutnya, ini adalah lampu hijau bagi warga untuk meningkatkan produksi pisang, karena komoditas ini diprediksi akan menjadi sangat laris di seluruh dapur Makanan Bergizi.
Dengan demikian, para petani Simeulue bisa merasakan manfaat ekonomi yang signifikan dari program ini.
Tak hanya pisang, permintaan ayam dan telur juga meningkat, membuka peluang besar bagi peternak di Simeulue untuk mengembangkan usaha mereka.
Jika dikelola dengan baik, program ini tidak hanya meningkatkan kesehatan anak-anak tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat secara luas.
Sebagai sosok pemimpin yang aktif memberikan dorongan bagi masyarakat, Reza Fahlevi mengajak warga untuk melihat peluang ini sebagai langkah menuju kemandirian ekonomi.
“Ini kesempatan bagi kita untuk mandiri secara ekonomi, dengan memanfaatkan potensi alam yang kita miliki,” ujarnya.
Jenis pisang yang dimaksud ialah, Pisang Ayam (Musa Acuminata). Pisang ini banyak ditemukan dan tumbuh subur di Simeulue.
Program ini rencananya akan diluncurkan secara penuh menjelang akhir tahun ini, untuk saat ini sudah mulai berjalan di beberapa sekolah di Kecamatan Simeulue Tengah, Simeulue Cut, dan Salang.
Dengan adanya program makan siang bergizi ini, Simeulue tidak hanya mendapat perhatian dalam upaya peningkatan gizi anak sekolah, tetapi juga menjadi contoh bagaimana program nasional bisa menggerakkan ekonomi lokal jika dikelola dengan baik.(firnalis)



